PALEMBANG, gesahannusantara.com — Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus memperkuat tata kelola satuan pendidikan melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia di bidang administrasi, data, dan keuangan sekolah.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pelatihan Peningkatan Kompetensi Operator dan Bendahara Sekolah SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Sumatera Selatan yang diikuti sebanyak 965 peserta dari satuan pendidikan negeri di seluruh Sumsel.
Langkah Preventif Polsek Sako, Bhabinkamtibmas Karyamulya Sosialisasi Bahaya Karhutla di Sematang Borang
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Mondyaboni, SE., S.Kom., M.Si., M.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di ruang kelas. Di balik layanan pendidikan yang berkualitas, terdapat sistem administrasi, pengelolaan data, keuangan, dan tata kelola kelembagaan yang harus berjalan tertib, akurat, transparan, serta dapat dipertanggungjawabkan.
“Operator dan bendahara sekolah memiliki posisi yang sangat strategis. Operator bukan sekadar petugas yang melakukan input data, sementara bendahara bukan hanya menjalankan fungsi administratif keuangan,” tegas Mondyaboni.
Menurutnya, operator memiliki peran penting dalam memastikan data pendidikan yang tersedia selalu akurat, mutakhir, konsisten, dan dapat dipercaya. Data tersebut menjadi salah satu dasar dalam proses perencanaan maupun pengambilan kebijakan pendidikan.
Sementara bendahara sekolah memiliki tanggung jawab penting dalam memastikan sumber daya dan anggaran pendidikan dikelola secara efektif, efisien, transparan, tertib, dan akuntabel sesuai ketentuan yang berlaku.
“Karena itu, peningkatan kompetensi operator dan bendahara bukan merupakan kegiatan administratif semata, tetapi bagian dari penguatan tata kelola pendidikan di Provinsi Sumatera Selatan,” ujarnya.
Mondyaboni mengatakan, kebutuhan terhadap pengelolaan data dan administrasi yang berkualitas semakin penting seiring berlangsungnya transformasi digital di sektor pendidikan.
Hampir seluruh proses pengelolaan pendidikan, mulai dari perencanaan, pengelolaan peserta didik, data pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, penganggaran, pelaporan hingga evaluasi program, membutuhkan data yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Prinsipnya sederhana, kebijakan yang baik harus dibangun dari data yang baik. Kalau data tidak akurat, perencanaan bisa keliru. Kalau administrasi keuangan tidak tertib, pelaksanaan program dapat menghadapi berbagai persoalan,” jelasnya.
Melalui pelatihan tersebut, Disdik Sumsel menargetkan peningkatan kapasitas peserta dalam sejumlah aspek, mulai dari kompetensi teknis, literasi digital, pengelolaan data sekolah, pengelolaan keuangan hingga penguatan integritas dan akuntabilitas.
Ia menekankan, kompetensi harus berjalan beriringan dengan integritas. Kemampuan menggunakan aplikasi maupun menyusun laporan tidak akan cukup tanpa ketelitian, kedisiplinan, dan rasa tanggung jawab.
“Yang kita butuhkan adalah SDM sekolah yang kompeten, teliti, disiplin, berintegritas dan bertanggung jawab,” katanya.
Selain peningkatan kapasitas operator dan bendahara, Mondyaboni juga meminta para kepala sekolah memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan tugas keduanya.
Ia mengingatkan agar operator maupun bendahara tidak bekerja sendiri tanpa koordinasi dan pengawasan dari pimpinan satuan pendidikan.
“Kepala sekolah tetap menjadi penanggung jawab utama tata kelola satuan pendidikan. Karena itu, bangun budaya kerja yang kolaboratif,” tegasnya.
Setiap data yang disampaikan, lanjutnya, harus melalui proses verifikasi. Setiap transaksi keuangan harus memiliki dasar dan bukti yang jelas. Sementara setiap program harus direncanakan dan dilaksanakan secara tertib serta dilaporkan dengan mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
“Kita tidak ingin sekolah hanya tertib secara administratif, tetapi juga harus memiliki tata kelola yang sehat dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan,” ujarnya.
Mondyaboni berharap pelatihan tersebut tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan secara teori. Peserta diminta membawa hasil pembelajaran ke sekolah masing-masing dan melakukan perbaikan nyata dalam pelaksanaan tugas sehari-hari.
Ia juga mendorong peserta aktif berdiskusi, menyampaikan persoalan yang dihadapi di lapangan serta berbagi praktik baik. Menurutnya, pertukaran pengalaman diperlukan untuk menemukan solusi dan membangun keseragaman dalam pelaksanaan tata kelola pendidikan di Sumsel.
“Jangan ragu menyampaikan kendala. Justru melalui diskusi dan pertukaran pengalaman, kita dapat menemukan solusi yang lebih baik dan seragam dalam pelaksanaan tata kelola pendidikan di Sumatera Selatan,” katanya.
Ke depan, Disdik Sumsel menargetkan adanya perubahan nyata di lingkungan satuan pendidikan, ditandai dengan semakin akuratnya data sekolah, tertibnya administrasi, semakin transparannya pengelolaan keuangan, meningkatnya kecepatan pelayanan, serta semakin profesionalnya tata kelola sekolah.
Ketua Panitia Pelaksana, Hj. Eka Diani Hartini, M.Si., menjelaskan kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan dan profesionalitas operator serta bendahara sekolah agar mampu menjalankan tugas secara efektif, efisien, tertib, transparan, dan akuntabel.
Kegiatan mengusung tema “Meningkatkan Kompetensi Operator dan Bendahara Sekolah untuk Mewujudkan Tata Kelola Pendidikan yang Profesional, Transparan, Akuntabel, dan Berbasis Data.”
Sebanyak 965 operator dan bendahara SMA, SMK, dan SLB Negeri se-Provinsi Sumatera Selatan mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta mendapatkan materi dari narasumber dan instruktur yang memiliki kompetensi sesuai bidang tugas masing-masing.
Materi pelatihan mencakup kebijakan Disdik Sumsel dalam penguatan tata kelola satuan pendidikan, peningkatan profesionalitas operator, pengelolaan dan pemutakhiran data pendidikan, pemanfaatan sistem informasi dan aplikasi pendidikan, hingga pengelolaan administrasi sekolah berbasis digital.
Untuk bendahara, materi yang diberikan meliputi kebijakan dan tata kelola pengelolaan keuangan sekolah, pengelolaan anggaran dan pertanggungjawaban keuangan, penatausahaan dan pelaporan keuangan, serta transparansi dan akuntabilitas pengelolaan anggaran satuan pendidikan.
Selain penyampaian materi, pelatihan juga dilakukan melalui diskusi dan tanya jawab, praktik dan simulasi, studi kasus, pendampingan teknis serta evaluasi pemahaman peserta.
Eka mengatakan, metode tersebut dirancang agar peserta tidak hanya memahami aspek teoritis, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh dalam pelaksanaan tugas di satuan pendidikan masing-masing.
“Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi operator dan bendahara, sekaligus meningkatkan kualitas dan akurasi data, tertib administrasi, serta kualitas pengelolaan dan pelaporan keuangan sekolah,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga diharapkan memperkuat koordinasi antara satuan pendidikan dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan.
Pada akhirnya, seluruh proses peningkatan kompetensi tersebut diarahkan pada terciptanya tata kelola sekolah yang profesional, transparan, akuntabel dan berbasis data untuk mendukung peningkatan mutu layanan pendidikan bagi peserta didik di Sumatera Selatan.
Disdik Sumsel pun mendorong seluruh operator dan bendahara sekolah menjadi bagian penting dari transformasi tata kelola pendidikan dengan menjadikan prinsip “Data Akurat, Administrasi Tertib, Keuangan Transparan, Pelayanan Berkualitas” sebagai budaya kerja di lingkungan satuan pendidikan.
0 Komentar