PALEMBANG, gesahannusantara.com â Lingkungan pendidikan di Kota Palembang semakin terbuka terhadap interaksi lintas negara. Memasuki Tahun Pelajaran 2026/2027, dua sekolah di Kota Palembang dipercaya menjadi tuan rumah program pertukaran pelajar internasional yang difasilitasi Bina Antarbudaya Chapter Palembang.
Program tersebut menghadirkan dua pelajar mancanegara, yakni Mattia Agnola dari Italia yang menjalani pendidikan di SMA Negeri 5 Palembang dan Teta Yosuya asal Jepang yang belajar di SMA Kusuma Bangsa (Kumbang).
HUT ke-41, SMAN 10 Palembang Kobarkan Semangat âNextspirationâ untuk Generasi Berprestasi
Keduanya akan mengikuti proses pendidikan sekaligus menjalani kehidupan sosial dan budaya di Palembang selama kurang lebih 10 bulan. Kehadiran mereka tidak hanya menjadi pengalaman baru bagi para pelajar asing, tetapi juga membuka ruang bagi siswa Palembang untuk mengenal bahasa, budaya, serta perspektif pendidikan dari negara lain secara langsung.
Penempatan kedua siswa di sekolah penerima dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan dan komitmen sekolah dalam mengembangkan wawasan internasional. SMA Negeri 5 Palembang sendiri telah memasuki tahun kedua sebagai host school dalam program tersebut.
Sebelumnya, sekolah tersebut pernah menerima siswa pertukaran asal Italia bernama Giordano. Pengalaman itu menjadi modal bagi SMAN 5 Palembang untuk kembali membuka ruang interaksi internasional pada tahun pelajaran ini.
Kepala SMA Negeri 5 Palembang sekaligus Ketua Harian Bina Antarbudaya Chapter Palembang, Dra. Hj. Ria Wilastri, M.M., mengatakan program pertukaran pelajar sejalan dengan visi sekolah dalam membangun lingkungan pendidikan yang berwawasan global.
Menurutnya, keberadaan siswa asing di lingkungan sekolah memberikan pengalaman pembelajaran yang tidak hanya berlangsung di dalam kelas.
âKami berusaha memberikan ruang seluas-luasnya bagi murid-murid untuk berinteraksi secara internasional. Kehadiran Mattia menjadi inspirasi dan motivasi nyata tentang semangat belajar, bagaimana seorang anak berani keluar dari zona nyaman dan meninggalkan keluarganya di Eropa demi mempelajari budaya serta bahasa Indonesia,â ujar Ria.
Mattia sendiri telah bergabung dengan kelas 11.8 dengan peminatan IPS/Sosiologi. Penempatan tersebut disesuaikan dengan ketertarikannya terhadap sejarah dan sosiologi.
Sejak berada di Palembang, Mattia menunjukkan antusiasme untuk mengenal kehidupan masyarakat Indonesia. Ia mulai mempelajari bahasa Indonesia, termasuk sejumlah kata dan ungkapan yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Tidak hanya bahasa, Mattia juga diperkenalkan dengan norma kesopanan dan kebiasaan masyarakat setempat. Proses adaptasi tersebut menjadi bagian penting dari pengalaman pertukaran pelajar karena peserta tidak sekadar mengikuti kegiatan akademik, tetapi juga dituntut memahami kehidupan sosial dan budaya di negara tempat mereka tinggal.
Untuk mendukung proses adaptasi, Bina Antarbudaya Chapter Palembang memberikan pembekalan bahasa Indonesia secara intensif selama tiga bulan pertama. Program tersebut diharapkan membantu Mattia dan Teta berkomunikasi lebih mudah dalam aktivitas sehari-hari sekaligus mempercepat proses mereka berbaur dengan lingkungan sekolah dan masyarakat.

Kehadiran kedua pelajar asing itu pun mendapat sambutan positif dari siswa dan guru. Interaksi sehari-hari secara tidak langsung mendorong para siswa untuk lebih aktif menggunakan bahasa Inggris dan membangun keberanian berkomunikasi dengan orang dari latar belakang budaya berbeda.
Bagi sekolah, pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran global yang sulit diperoleh hanya melalui teori di ruang kelas.
Program pertukaran ini juga menunjukkan bahwa pendidikan internasional tidak selalu harus dilakukan dengan mengirim siswa ke luar negeri. Kehadiran pelajar mancanegara di sekolah lokal justru menciptakan ruang pertukaran budaya secara langsung, mulai dari bahasa, kebiasaan, cara berpikir hingga pengalaman belajar.
Bagi sekolah, pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembelajaran global yang sulit diperoleh hanya melalui teori di ruang kelas.
Program pertukaran ini juga menunjukkan bahwa pendidikan internasional tidak selalu harus dilakukan dengan mengirim siswa ke luar negeri. Kehadiran pelajar mancanegara di sekolah lokal justru menciptakan ruang pertukaran budaya secara langsung, mulai dari bahasa, kebiasaan, cara berpikir hingga pengalaman belajar.
Memperkuat Pendidikan Berwawasan Internasional
Bina Antarbudaya merupakan yayasan nirlaba yang menjadi mitra AFS Intercultural Programs di Indonesia. Organisasi ini telah berkiprah lebih dari 80 tahun di Indonesia dan memiliki 20 chapter regional.
Bina Antarbudaya Chapter Palembang sendiri berdiri pada 2005 melalui kerja sama Kantor Nasional Bina Antarbudaya dengan SMA Negeri 17 Palembang yang saat itu dipimpin Dra. Mien Sukasmi.
Saat ini, kepengurusan Bina Antarbudaya Chapter Palembang diketuai Armani, guru Bahasa Inggris SMAN 17 Palembang, dengan Dra. Hj. Ria Wilastri, M.M. sebagai Ketua Harian.
Melalui program pertukaran pelajar, Bina Antarbudaya tidak hanya memfasilitasi mobilitas siswa antarnegara, tetapi juga membangun ruang perjumpaan budaya di lingkungan pendidikan.
Bagi Palembang, kehadiran Mattia dan Teta menjadi wajah baru pendidikan yang semakin terkoneksi dengan dunia internasional. Selama hampir satu tahun berada di kota ini, keduanya akan menjadi bagian dari kehidupan sekolah sekaligus membawa cerita tentang Indonesia ketika nantinya kembali ke negara masing-masing.
Di sisi lain, bagi para siswa Palembang, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk melihat dunia dari lingkungan sekolah sendiri. Pertukaran budaya pun tidak lagi sekadar menjadi konsep dalam pembelajaran, tetapi hadir melalui pertemanan dan interaksi sehari-hari.
Kehadiran dua pelajar mancanegara itu pada akhirnya memperlihatkan bahwa membangun wawasan global dapat dimulai dari ruang kelasâdengan membuka pintu sekolah bagi dunia dan menjadikan keberagaman sebagai bagian dari proses pendidikan.
0 Komentar