BERITA

Atasi Antrean Biosolar, Herman Deru Minta SPBU Sumsel Buka 24 Jam

Oleh ARI ANSAYAH
👁 1 Views
💬 0 Komentar
3 Menit Baca

Gesahannusantara – Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru bergerak cepat merespons antrean panjang kendaraan pengisi Biosolar dengan meninjau langsung enam Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Palembang, Banyuasin, dan Ogan Ilir pada Selasa (14/7/2026). Dari hasil peninjauan tersebut, Herman Deru langsung menginstruksikan sejumlah langkah strategis untuk mempercepat pelayanan distribusi BBM bersubsidi.

Langkah strategis itu meliputi optimalisasi operasional SPBU selama 24 jam, penambahan pasokan Biosolar, pengaturan arus kendaraan menuju SPBU, hingga evaluasi sistem pelayanan pengisian BBM. Enam SPBU yang menjadi lokasi peninjauan yakni SPBU Jalan H.M. Noerdin Pandji, SPBU Bandara, SPBU Sukajadi di Banyuasin, SPBU Soekarno-Hatta, SPBU Kolonel H. Burlian Km 7, dan SPBU Pegayut di Kabupaten Ogan Ilir.

Dalam peninjauan tersebut, Herman Deru didampingi jajaran PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), aparat kepolisian, serta organisasi perangkat daerah terkait. Herman Deru menyatakan ingin melihat langsung fakta di lapangan bersama instansi terkait agar solusi yang diambil benar-benar berdasarkan kondisi riil.

Berdasarkan hasil koordinasi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dengan BPH Migas, pasokan Biosolar sebenarnya telah ditambah sehingga antrean di sejumlah SPBU mulai berkurang. Meski demikian, evaluasi tetap dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab antrean yang masih terjadi di beberapa titik dengan memeriksa seluruh rantai pelayanan, mulai dari kecepatan pengisian BBM, sistem pembayaran, kesiapan operasional SPBU, hingga pola distribusi kendaraan yang mengantre.

Hasil evaluasi menunjukkan satu kendaraan yang mengisi Biosolar senilai sekitar Rp900 ribu membutuhkan waktu rata-rata 8,5 menit. Untuk mempercepat pelayanan, Herman Deru mengusulkan penggunaan selang nozzle yang lebih panjang agar kendaraan dapat mengisi BBM dari sisi kanan maupun kiri tanpa harus memutar posisi kendaraan.

Herman Deru mengungkapkan, titik kepadatan antrean paling krusial berada di jalur keluar masuk Kota Palembang, terutama di kawasan Citra Grand City (CGC), Pegayut, dan Kramasan. Sementara itu, antrean di kawasan Sekojo dan Lemabang dipicu tingginya aktivitas kendaraan logistik menuju Pelabuhan Boom Baru, padahal kedua SPBU tersebut telah beroperasi selama 24 jam.

Menurut Herman Deru, SPBU di pusat kota memiliki kapasitas lahan yang terbatas, sementara kendaraan yang datang didominasi kendaraan besar. Oleh karena itu, distribusi kendaraan harus diatur agar antrean tidak terpusat di satu lokasi saja.

Berdasarkan hasil rapat koordinasi bersama PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel dan unsur kepolisian, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menyepakati sejumlah langkah percepatan. Salah satu langkah utama ialah mengoptimalkan seluruh SPBU penyalur Biosolar agar beroperasi selama 24 jam, di mana SPBU yang sebelumnya menghentikan pelayanan pada malam hari diminta tetap melayani masyarakat sepanjang waktu.

Pertamina juga menyatakan siap menjamin ketersediaan stok Biosolar, termasuk melakukan penambahan pasokan apabila diperlukan. Selain itu, Herman Deru meminta Polrestabes Palembang menyusun Analisis Dampak Lalu Lintas (Amdal Lalin) sebagai dasar pengaturan operasional sekitar 10 SPBU penyalur Biosolar di Kota Palembang agar tidak mengganggu aktivitas masyarakat pada jam sibuk.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama jajaran kepolisian juga akan mengatur distribusi kendaraan menuju sekitar 10 SPBU penyalur Biosolar agar antrean tidak lagi menumpuk di satu lokasi. Herman Deru juga menginstruksikan PT Pertamina Patra Niaga menambah pasokan Biosolar ke 164 SPBU yang tersebar di Sumatera Selatan, terutama di jalur logistik antarkabupaten, antarprovinsi, dan antarpulau agar kendaraan angkutan barang tidak lagi terpusat melakukan pengisian di Kota Palembang.

Saat melakukan peninjauan, Herman Deru juga menemukan banyak kendaraan dari luar Sumatera Selatan, seperti Kalimantan, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan sejumlah daerah lainnya yang mengisi Biosolar di SPBU wilayah Sumsel. Ia meminta Pertamina menghitung ulang kebutuhan kuota Biosolar agar distribusi tetap stabil seiring meningkatnya mobilitas kendaraan logistik lintas daerah, sekaligus menyoroti meningkatnya penggunaan Biosolar oleh kendaraan yang sebenarnya direkomendasikan menggunakan BBM nonsubsidi seperti Dexlite maupun Pertamina Dex.

Disclaimer

Artikel ini disadur dan disusun ulang oleh Gesahan Nusantara berdasarkan sumber: sumselupdate.com, tanpa mengubah fakta utama dari artikel asli.

(aa/nva)

0 Komentar