Palembang, Gesahannusantara – Kementerian Kehutanan memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau 2026 yang diperparah oleh fenomena El Nino.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) resmi digelar di Sumatera Selatan oleh Kementerian Kehutanan (Kemenhut), menyasar wilayah-wilayah rawan seperti Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, dan Kota Palembang. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi risiko kebakaran hutan dan lahan yang meningkat akibat musim kemarau panjang yang dipicu oleh fenomena El Nino.
Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut, Thomas Nifinluri, menjelaskan bahwa fenomena El Nino telah mempercepat kekeringan meteorologis di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Sumatera Selatan. Kondisi ini memaksa pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat langkah-langkah pencegahan.
“Kondisi ini mendorong kami memperkuat langkah pencegahan melalui Operasi Modifikasi Cuaca dengan memanfaatkan awan potensial untuk menginduksi hujan,” ujar Thomas pada Selasa (21/7/2026). Ia menambahkan bahwa pendekatan pengendalian karhutla kini lebih mengutamakan pencegahan dibandingkan pemadaman.
Melalui OMC, hujan buatan diharapkan mampu membasahi lahan, mengurangi risiko kebakaran, menjaga Tinggi Muka Air Tanah (TMAT) di lahan gambut, serta mengisi cadangan air di waduk, kanal, embung, dan kolam retensi. Langkah ini diharapkan dapat meminimalkan potensi kebakaran yang kerap terjadi di musim kemarau.
Operasi 12 Hari di Sumsel
Operasi di Sumatera Selatan dijadwalkan berlangsung selama 12 hari, mulai 19 hingga 30 Juli 2026. Pangkalan Udara Sri Mulyono Herlambang di Palembang menjadi pusat komando operasi. Hingga hari kedua, tim telah melaksanakan tiga sorti penyemaian awan di wilayah OKI, Banyuasin, dan Palembang, dengan memanfaatkan data radar cuaca untuk memetakan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan.
“Berdasarkan hasil pengamatan curah hujan dan overlay lintasan penyemaian awan, teridentifikasi hujan terjadi di sekitar lokasi operasi, terutama di wilayah OKI. Ini menunjukkan bahwa meskipun secara umum kondisi cuaca di Sumatera Selatan relatif kering, potensi hujan masih tersedia di sekitar wilayah penyemaian,” jelas Thomas.
Thomas juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan OMC di Sumsel mengikuti keberhasilan operasi serupa di Provinsi Riau pada April 2026. Saat itu, curah hujan di Riau meningkat hingga 26,42 persen dibandingkan data historis, dan tidak ditemukan titik panas selama operasi berlangsung.
Kolaborasi Lintas Instansi
Keberhasilan operasi ini, menurut Thomas, tidak terlepas dari sinergi berbagai pihak. Kemenhut bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI Angkatan Udara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.
“Selama operasi berjalan, penting untuk terus memperkuat koordinasi dan komunikasi, mengutamakan keselamatan dengan mematuhi SOP penerbangan dan penyemaian bahan, serta melakukan pemantauan dampak agar penyemaian tepat sasaran, terutama di kawasan gambut yang rawan terbakar,” tegas Thomas.
Ia berharap langkah ini dapat menjadi solusi efektif untuk mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan, sekaligus menjadi model pencegahan karhutla di wilayah lain yang menghadapi ancaman serupa.

0 Komentar