PALEMBANG, gesahannusantara.com – SMA Negeri 11 Palembang menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 dengan mengedepankan konsep ramah, pembentukan karakter, serta penguatan budaya disiplin bagi peserta didik baru. Selama lima hari pelaksanaan, para siswa dikenalkan dengan lingkungan sekolah, tata tertib, budaya belajar, hingga berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang dapat menjadi wadah pengembangan potensi.
Kepala SMA Negeri 11 Palembang, Sunandar, S.Pd., M.Si., mengatakan jumlah peserta didik baru tahun ini menyesuaikan kuota yang ditetapkan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, yakni 12 rombongan belajar (rombel) dengan kapasitas maksimal 40 siswa per kelas. Namun, jumlah tersebut tidak terisi secara penuh.
Menurutnya, tema MPLS Ramah yang diusung tahun ini selaras dengan kebijakan Kementerian Pendidikan, sekaligus diintegrasikan dengan penguatan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat sebagai fondasi pembentukan karakter peserta didik sejak hari pertama bersekolah.
“Anak-anak kami kenalkan dengan seluruh lingkungan sekolah, mulai dari ruang kepala sekolah, ruang guru, perpustakaan, ruang Bimbingan Konseling, hingga fasilitas lainnya. Tujuannya agar mereka cepat beradaptasi dan merasa nyaman berada di sekolah,” ujar Sunandar.
Selain pengenalan lingkungan, setiap pagi siswa mengikuti kegiatan Pagi Ceria yang diisi dengan apel, senam bersama, dan berbagai aktivitas pembangun semangat sebelum memasuki proses pembelajaran.
Pelaksanaan MPLS di SMAN 11 Palembang juga dilakukan lebih awal dari jadwal yang ditetapkan, yakni dimulai pada Sabtu, 11 Juli 2026. Kebijakan tersebut diambil agar tidak berbenturan dengan agenda kegiatan ekstrakurikuler Bujang Gadis SMAN 11 Palembang yang telah dipersiapkan jauh hari sebelum pembagian rapor.
“Kami tetap melaksanakan MPLS selama lima hari. Jadwal hanya dimajukan satu hari agar kegiatan organisasi siswa yang sudah lama direncanakan tetap dapat berjalan tanpa mengurangi kualitas MPLS,” jelasnya.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian peserta didik baru adalah pameran dan promosi ekstrakurikuler yang digelar pada hari keempat MPLS. Seluruh organisasi dan ekstrakurikuler menampilkan demonstrasi kemampuan sekaligus mengajak siswa baru bergabung sesuai minat dan bakat masing-masing.
Bahkan, sejumlah ekstrakurikuler secara mandiri menyediakan hadiah sederhana atau doorprize menggunakan dana kas organisasi sebagai bentuk kreativitas dalam menarik minat anggota baru.
Sunandar mengungkapkan, minat siswa terhadap ekstrakurikuler saat ini cukup beragam. Cabang olahraga seperti bola voli masih menjadi favorit karena menjadi salah satu andalan sekolah. Sementara itu, minat terhadap Pramuka dan Paskibra tidak sebesar beberapa tahun sebelumnya.
Ia mengakui sekolah masih menghadapi tantangan dalam penyediaan sarana olahraga. Lapangan basket yang ada akan dialihfungsikan sehingga sekolah tengah menyusun rencana pembangunan lapangan multifungsi yang dapat digunakan untuk basket, voli, maupun futsal.
“Kalau ingin menjadi lapangan futsal yang ideal harus dilengkapi jaring pengaman di sekelilingnya, sementara anggaran pembangunannya cukup besar dan belum dapat dibiayai melalui dana BOS,” katanya.
Lebih lanjut, Sunandar menegaskan bahwa pendidikan karakter menjadi prioritas utama sekolah. Ia menanamkan pemahaman kepada seluruh guru bahwa ketegasan dalam mendidik tidak harus diwujudkan dengan sikap keras.
“Kami selalu menyampaikan kepada guru bahwa tegas tidak identik dengan keras. Guru bisa tetap lembut, tetapi konsisten dalam menerapkan aturan. Konsistensi itulah yang membangun kedisiplinan siswa,” ujarnya.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai program pembiasaan seperti upacara bendera setiap Senin, guru piket yang menyambut siswa setiap pagi, pelaksanaan salat berjamaah di musala sekolah, serta pembiasaan pemberian penguatan karakter selama lima hingga sepuluh menit sebelum pembelajaran dimulai oleh guru mata pelajaran maupun wali kelas.
Menurut Sunandar, sekolah berkomitmen menjadikan SMAN 11 Palembang sebagai rumah kedua yang aman, nyaman, dan menyenangkan sehingga peserta didik memiliki semangat tinggi untuk datang dan belajar di sekolah.
“Kami ingin anak-anak merasa sekolah adalah rumah kedua. Kalau mereka nyaman, aman, dan bahagia, tentu motivasi belajarnya juga akan meningkat,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Sunandar juga menyoroti persoalan banyaknya siswa yang datang ke sekolah menggunakan sepeda motor meskipun belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM). Sekolah telah menerapkan kebijakan tegas dengan melarang seluruh siswa memarkir kendaraan di dalam lingkungan sekolah.
Menurutnya, kebijakan tersebut selain menjaga ketertiban juga sebagai bentuk edukasi mengenai keselamatan berlalu lintas. Pihak sekolah bahkan telah bekerja sama dengan kepolisian untuk memberikan sosialisasi kepada siswa mengenai pentingnya mematuhi aturan berkendara.
“Kami mengimbau siswa agar tidak membawa kendaraan apabila belum memiliki SIM. Peran orang tua sangat penting karena merekalah yang memberikan izin atau memfasilitasi anak membawa kendaraan ke sekolah,” tegasnya.
Ia berharap para orang tua dapat menjadi mitra sekolah dalam membentuk karakter dan kedisiplinan anak. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademik, tetapi juga kolaborasi yang kuat antara keluarga dan sekolah.
“Pendidikan sesungguhnya dimulai dari rumah. Sekolah bukan menggantikan peran orang tua, tetapi menjadi mitra dalam mendampingi anak-anak mencapai cita-cita mereka. Tanpa kerja sama yang baik, akan sulit mewujudkan prestasi yang optimal,” ungkapnya.
Selain fokus pada peserta didik baru, SMAN 11 Palembang juga mulai mempersiapkan siswa kelas XI menghadapi berbagai agenda akademik penting, seperti Tes Kemampuan Akademik (TKA) dan ujian berbasis komputer. Sekolah menyiapkan sarana pendukung, termasuk fasilitas komputer, serta mengarahkan guru untuk memberikan pendampingan maksimal agar siswa mampu meraih hasil terbaik.
Di akhir keterangannya, Sunandar berharap pelaksanaan MPLS ke depan dapat lebih fleksibel selama tujuan utamanya tercapai, yakni membantu siswa baru mengenal lingkungan sekolah, memahami budaya sekolah, serta membangun komunikasi yang baik dengan guru dan seluruh warga sekolah.
“Yang terpenting bukan lamanya kegiatan, tetapi efektivitasnya. Ketika siswa sudah mengenal lingkungan sekolah, mengenal guru, dan merasa nyaman, proses pembelajaran selanjutnya akan berlangsung lebih baik,” pungkasnya.

0 Komentar