EMPAT LAWANG, Gesahannusantara.Com — Dugaan perundungan terhadap seorang siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 1 Kabupaten Empat Lawang hingga mengalami cedera pada tangan memunculkan pertanyaan mengenai pengawasan dan perlindungan siswa di lingkungan asrama.
Siswa yang masih di bawah umur itu sebelumnya dipulangkan kepada keluarganya setelah mengalami cedera pada tangan kanan dan mendapat penanganan medis.
Presiden RI Prabowo Resmikan 3.395 Jembatan TNI-Polri, Kapolrestabes Palembang Ikuti Peresmian Secara Daring
Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis malam, 10 September 2026. Keluarga korban mengaku mendapat informasi dari pihak sekolah sekitar pukul 21.35 WIB bahwa korban berada di rumah sakit karena disebut terlibat perkelahian.
Tomi Mandala Saputra, pihak keluarga korban, mengatakan keluarga kemudian mendatangi rumah sakit. Dari pemeriksaan medis, keluarga mendapat informasi bahwa cedera pada tangan korban memerlukan tindakan operasi.
Namun, keluarga kemudian memutuskan membawa korban pulang untuk menjalani pengobatan tradisional.
“Waktu itu kami mendapat telepon dari pihak sekolah, informasinya anak ini jatuh atau terpeleset. Setelah kami sampai di rumah sakit, kami melihat kondisinya dan kemudian membawanya pulang,” ujar Tomi saat diwawancarai pada 13 September 2026.
Setelah korban bersama keluarga, mereka kemudian meminta penjelasan mengenai kejadian tersebut. Berdasarkan keterangan korban kepada keluarga, peristiwa diduga bermula setelah korban mendapat teguran karena berisik di masjid.
Tomi mengatakan, berdasarkan cerita korban, setelah salat Isya korban ditantang berkelahi. Korban disebut tidak merespons tantangan tersebut dan memilih kembali ke kamar untuk beristirahat.
Namun, saat dalam perjalanan menuju asrama, korban mengaku dicegat sejumlah siswa. Dalam kejadian itu, korban diduga mengalami kekerasan hingga mengalami cedera pada tangan kanannya.
Keluarga menyebut hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya pergeseran pada bagian engsel tangan atau patah pada bagian tersebut.
Atas kejadian itu, keluarga meminta persoalan ditangani secara serius dan berencana menempuh jalur hukum. Mereka juga meminta adanya kejelasan mengenai peristiwa yang dialami korban serta jaminan perlindungan terhadap anak.
“Kami sebagai keluarga tentu meminta keadilan. Anak ini datang ke Sekolah Rakyat untuk belajar, bukan untuk mendapatkan perlakuan seperti ini,” kata Tomi.
Kepsek: Wali Asrama Langsung Meleraikan
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Empat Lawang, Suparno, M.Pd.Gr., membenarkan adanya peristiwa yang terjadi pada Kamis malam tersebut.
Suparno menyampaikan keprihatinannya atas kejadian itu. Menurutnya, setelah peristiwa terjadi, wali asrama segera melerai dan mengamankan siswa yang terlibat.
“Salah satu peserta didik yang mengalami luka juga segera dibawa untuk mendapatkan penanganan medis,” ujar Suparno.
Ia mengatakan pihak sekolah saat ini memprioritaskan kondisi dan perlindungan seluruh anak yang terlibat. Sekolah juga berkomunikasi dengan keluarga dan berkoordinasi dengan pihak berwenang.
Menurut Suparno, pihak sekolah menghormati proses penanganan yang sedang berlangsung dan siap memberikan informasi maupun keterangan yang diperlukan.
Sekolah juga akan mengevaluasi sistem pengawasan dan pengasuhan di lingkungan asrama sebagai langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Terkait persoalan tersebut, pihak sekolah meminta keluarga korban datang ke sekolah untuk membahas permasalahan melalui mediasi.
“Kami akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut apabila sudah ada informasi yang terverifikasi dan dapat disampaikan kepada publik,” katanya.
Suparno juga meminta identitas serta kondisi psikologis anak-anak yang terlibat tetap dijaga mengingat seluruhnya masih di bawah umur.
Sebelumnya, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Empat Lawang juga membenarkan adanya kejadian tersebut. Sementara Dinas Sosial disebut telah mengecek kondisi korban dan membawanya untuk mendapatkan penanganan medis.
Kini, keluarga korban meminta penanganan terhadap kejadian tersebut dilakukan secara menyeluruh, termasuk mengungkap kronologi yang sebenarnya serta mengevaluasi sistem pengawasan dan perlindungan siswa di lingkungan asrama Sekolah Rakyat.
0 Komentar