PALEMBANG, gesahannusantara.com – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H. Herman Deru mengungkapkan bahwa Sumsel akan menjadi proyek percontohan (pilot project) penerapan teknologi dry ice untuk membantu mengatasi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Program yang diusulkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta telah mendapat persetujuan Presiden tersebut akan dilaksanakan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Herman Deru mengatakan, penerapan teknologi dry ice menjadi salah satu upaya yang disiapkan untuk mengatasi persoalan asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah, meskipun luas kebakaran dan jumlah titik api di lapangan menunjukkan penurunan.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam program Breaking News Metro TV bersama presenter Jose Nicol, Selasa (13/10/2026).
Herman Deru menjelaskan bahwa penanganan karhutla saat ini menghadapi dua persoalan berbeda yang perlu ditangani secara terpisah, yakni pemadaman api dan penanganan asap yang masih terperangkap di atmosfer. Kondisi tersebut menyebabkan masyarakat tetap merasakan dampak kabut asap meskipun kebakaran di sejumlah titik telah berhasil dikendalikan.
“Kadang-kadang, meskipun hotspot dan titik api di lapangan sudah berkurang, sisa asap ini masih terperangkap. Jadi, persoalan asap harus kita bedakan dengan persoalan apinya sendiri,” jelas Herman Deru.
Ia mengungkapkan, luas kebakaran sempat mengalami penurunan signifikan hingga tersisa sekitar 6,9 hektare. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya menghilangkan asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumsel.
Dampak asap juga terlihat dari perkembangan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang meningkat sejak Oktober, dengan kondisi yang berfluktuasi dari kategori sedang hingga merah dan berbahaya.
Oleh karena itu, menurut Herman Deru, upaya penanganan karhutla tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman titik api. Pemerintah juga perlu menyiapkan langkah khusus untuk membantu mengurai asap yang masih mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat.
“Untuk menghilangkan asap ini, kita menunggu penerapan teknologi dry ice. Ini berbeda dengan Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC yang selama ini kita lakukan,” ujarnya.
Ia menyebutkan bahwa teknologi dry ice masih dalam tahap persiapan, termasuk penentuan pesawat yang akan digunakan. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penggunaan pesawat berkapasitas besar, seperti Hercules. Namun, Herman Deru berharap pesawat yang telah tersedia dapat dimanfaatkan terlebih dahulu agar pelaksanaan program tidak perlu menunggu terlalu lama.
Wilayah Palembang, Ogan Ilir, dan Banyuasin menjadi salah satu kawasan prioritas penerapan teknologi tersebut. Herman Deru menilai kawasan ini perlu mendapat perhatian karena memiliki kombinasi lahan mineral, rawa, dan gambut yang rentan terhadap kebakaran.
Sementara itu, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) juga menjadi perhatian utama karena memiliki luas wilayah sekitar 19.000 kilometer persegi, dengan kawasan gambut lebih dari 600 ribu hektare. Karakteristik tersebut membuat penanganan karhutla di OKI memerlukan dukungan personel, peralatan, dan koordinasi lintas sektor secara berkelanjutan.
Selain mempersiapkan teknologi dry ice, Pemprov Sumsel bersama pemerintah pusat terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu mengurangi potensi kebakaran dan mendukung upaya pemadaman.
Herman Deru mengatakan bahwa OMC telah dilaksanakan sebanyak 73 kali. Namun, lokasi turunnya hujan tidak selalu dapat dipastikan karena sangat dipengaruhi oleh arah angin dan kondisi atmosfer.
“OMC sudah kita lakukan 73 kali. Hujan bisa saja turun di provinsi sebelah atau kabupaten yang tidak terdampak. Kita tidak bisa memastikan secara tepat di mana hujan akan turun karena bergantung pada arah angin,” katanya.
Ia menegaskan bahwa OMC dan teknologi dry ice memiliki fungsi berbeda dalam penanganan karhutla. OMC dilakukan melalui modifikasi cuaca untuk memicu hujan, sedangkan teknologi dry ice yang sedang dipersiapkan diarahkan untuk membantu mengatasi persoalan asap.
Di sisi lain, pemadaman di lapangan tetap berjalan dengan mengerahkan Satgas Udara dan Satgas Darat. Sebanyak lima helikopter dari BNPB turut mendukung operasi pemadaman, meskipun penerbangannya terkadang terkendala jarak pandang (visibility).
Apabila kondisi tidak memungkinkan helikopter melakukan pemadaman di suatu wilayah, operasi udara harus dialihkan ke kabupaten lain yang memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan.
Herman Deru juga mengapresiasi keterlibatan sekitar 12 ribu personel dalam Satgas Darat, serta dukungan TNI, Polri, masyarakat peduli api, pemuda, mahasiswa, dan relawan yang turut berupaya mengatasi karhutla.
Sebagai bentuk keseriusan dalam memantau kondisi di lapangan, Herman Deru bahkan mengaku bermalam di Posko Satgas Karhutla di Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan, Kabupaten OKI.
Layanan Kesehatan dan Bantuan bagi Warga Tetap Jadi Perhatian
Herman Deru menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada pemadaman api dan pengurangan asap, tetapi juga memastikan masyarakat terdampak memperoleh perlindungan dan bantuan.
Pemprov Sumsel telah menginstruksikan agar posko kesehatan dan puskesmas memberikan pelayanan selama 24 jam tanpa dipungut biaya. Petugas kesehatan juga akan diperkuat melalui pendekatan jemput bola. Dengan demikian, petugas tidak hanya menunggu warga datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga turun langsung untuk memeriksa kondisi masyarakat.
Menurut Herman Deru, sebagian besar warga yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) masih dapat ditangani tanpa harus menjalani rawat inap. Melalui pelayanan selama 24 jam, masyarakat diharapkan dapat memperoleh pertolongan sesuai kebutuhan.
Selain layanan kesehatan, pemerintah juga menyiapkan bantuan sosial dan stimulus bagi masyarakat yang mengalami penurunan pendapatan akibat terganggunya aktivitas ekonomi.
Bantuan tersebut antara lain menyasar pedagang kecil di desa-desa terdampak. Pemerintah juga tengah mendata kelompok lain yang berpotensi mengalami penurunan penghasilan, termasuk pengemudi ojek yang aktivitasnya berkurang akibat perubahan kegiatan masyarakat.
“Artinya, kita tidak hanya melakukan antisipasi terhadap dampaknya, tetapi juga memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak,” ujarnya.
Tegaskan Pencegahan dan Larangan Membakar Lahan
Dalam kesempatan itu, Herman Deru juga menekankan pentingnya pencegahan karhutla melalui pelibatan masyarakat dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.
Ia mengatakan bahwa mayoritas kejadian karhutla berkaitan dengan aktivitas manusia. Namun, penentuan pelaku tidak selalu mudah karena api dapat merambat akibat angin. Oleh sebab itu, titik kebakaran yang ditemukan belum tentu merupakan lokasi awal pembakaran.
Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk turut memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai dugaan pembakaran lahan. Pemberian hadiah kepada masyarakat yang berhasil menyampaikan informasi valid, menurutnya, bertujuan memotivasi keterlibatan publik dalam upaya pencegahan karhutla.
Pemprov Sumsel juga telah menginstruksikan setiap desa untuk memiliki peraturan mengenai pengelolaan lahan, termasuk larangan membakar lahan dalam bentuk dan skala apa pun.
Herman Deru turut menyampaikan apresiasi kepada BNPB dan seluruh jajaran pemerintah pusat, khususnya Presiden, atas dukungan moral maupun material dalam penanganan karhutla di Sumsel.
Ia berharap seluruh upaya yang sedang berjalan, mulai dari pemadaman di lapangan, OMC, persiapan teknologi dry ice, hingga pelayanan kesehatan dan bantuan sosial, dapat memberikan hasil yang optimal.
Menutup keterangannya, Herman Deru mengingatkan bahwa keberhasilan penanganan karhutla membutuhkan konsistensi, kerja sama, dan semangat yang tidak boleh surut.
“Yang paling penting sekarang, stamina anak-anak di lapangan ini tidak boleh kendor. Apa pun kondisi alamnya, kita harus siap melawan karhutla dengan penuh semangat dan bekerja sama dengan semua pihak,” pungkasnya.

0 Komentar