Polri

Kapolda Sumsel Siapkan 159 Personel Jadi Edukator AI untuk Cegah Kejahatan Siber di Kalangan Pelajar

Oleh ARI ANSAYAH
👁 9 Views
💬 0 Komentar
3 Menit Baca

Sebanyak 159 personel dari berbagai satuan kerja Polda Sumatera Selatan dan Polres jajaran disiapkan menjadi edukator digital melalui kegiatan Training of Trainer (ToT) “Paham AI” Program Quick Wins Presisi Akselerasi Transformasi Polri untuk Masyarakat Triwulan III Tahun Anggaran 2026. Program ini menjadi langkah strategis Polri untuk memperkuat pencegahan kejahatan siber melalui edukasi literasi digital kepada pelajar di Sumatera Selatan.

Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Lantai 7 Gedung Presisi Mapolda Sumsel, Kamis (6/8/2026), dibuka langsung oleh Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol. Dr. Sandi Nugroho, S.I.K., S.H., M.Hum. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa upaya preventif melalui edukasi memiliki peran yang sangat penting dalam melindungi masyarakat dari ancaman kejahatan digital.

“Penegakan hukum memang penting, tetapi mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan siber adalah tugas mulia yang jauh lebih utama,” ujar Irjen Pol. Sandi Nugroho.

Kapolda juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas fungsi dalam menjalankan program edukasi kepada masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan program tidak dapat dicapai secara individual, melainkan melalui kerja sama seluruh unsur yang terlibat.

“Kita tidak bisa bekerja layaknya seorang Superman, tetapi harus membentuk sebuah super team. Para peserta harus mampu membawa wajah Polri yang humanis, cerdas, dan dekat dengan masyarakat,” katanya.

Selama pelatihan, peserta menerima materi mengenai pengantar kecerdasan buatan, penggunaan AI prompts, etika pemanfaatan AI, penanggulangan hoaks, serta pengenalan Platform Senopati. Materi disampaikan oleh narasumber dari Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan dan internal Polda Sumsel, kemudian dilanjutkan dengan praktik penggunaan platform, simulasi edukasi kepada pelajar, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test.

Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol. Nandang Mu’min Wijaya, S.I.K., M.H., menegaskan bahwa peserta tidak hanya dituntut memahami teknologi AI, tetapi juga memiliki kemampuan menyampaikan materi secara sederhana dan mudah dipahami oleh pelajar.

“Peserta tidak hanya dituntut memahami teknologi AI, tetapi juga harus mampu menyampaikan materi dengan bahasa yang sederhana dan relevan. Edukasi ini penting agar generasi muda dapat memanfaatkan AI secara bijak, menjaga data pribadi, mengenali hoaks dan modus kejahatan digital, serta memahami bahwa setiap aktivitas di ruang siber memiliki aturan dan konsekuensi hukum,” ujarnya.

Melalui program ini, Polri membangun jejaring edukator digital hingga tingkat kewilayahan sebagai bagian dari implementasi Quick Wins Presisi. Para peserta diwajibkan menindaklanjuti hasil pelatihan dengan memberikan edukasi yang terstruktur kepada pelajar melalui sinergi bersama Dinas Pendidikan, sekolah, dan pemangku kepentingan terkait.

Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan kapasitas personel Polri sebagai edukator digital sekaligus memperkuat upaya pencegahan berbagai ancaman kejahatan siber, mulai dari hoaks, deepfake, judi daring, hingga penipuan digital di kalangan generasi muda.

(aa/nva)

0 Komentar