PENDIDIKAN

Disdik Sumsel Waspadai Tawuran Pelajar Berbasis Provokasi Digital, Orang Tua Diminta Perketat Pengawasan Gawai

Oleh Deva
👁 12 Views
💬 0 Komentar
4 Menit Baca

PALEMBANG, gesahannusantara.com — Ancaman gangguan keamanan di kalangan pelajar kini tidak hanya muncul dari gesekan langsung di lapangan. Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Sumatera Selatan menilai media sosial justru menjadi salah satu ruang yang berpotensi memicu eskalasi konflik antarremaja.

Provokasi melalui grup percakapan maupun media sosial dinilai dapat dengan cepat membangun persepsi dan emosi di kalangan pelajar, meski kondisi sebenarnya di lapangan belum tentu seperti yang ramai diperbincangkan di dunia maya.

Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan, Likwanyu, mengatakan kondisi Kota Palembang hingga saat ini masih aman dan kondusif. Ia memastikan tidak terdapat situasi sebagaimana rumor dan narasi provokatif yang sempat beredar di sejumlah platform media sosial dalam beberapa hari terakhir.

“Alhamdulillah, Kota Palembang aman dan nyaman. Pada peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus lalu, daerah kita kondusif dan tidak dikotori oleh hal-hal negatif seperti yang dikhawatirkan atau terjadi di daerah lain,” ujar Likwanyu saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (20/8/2026).

Menurutnya, informasi yang beredar di media sosial perlu disikapi secara bijak. Sebab, penyebaran informasi yang tidak terverifikasi dapat memunculkan kepanikan sekaligus memperbesar persoalan yang sebenarnya tidak terjadi di lapangan.

Likwanyu mengungkapkan, pola konflik di kalangan remaja saat ini mengalami perubahan. Jika sebelumnya gesekan lebih banyak diawali pertemuan atau perselisihan secara langsung, kini konflik dapat bermula dari unggahan, pesan berantai, komentar, maupun percakapan dalam grup media sosial.

“Kalau dulu tawuran terjadi karena kesinggungan langsung atau mempertahankan jati diri secara fisik, sekarang cukup disulut sedikit melalui digital lewat WhatsApp. Padahal faktanya di lapangan tidak sebesar narasi yang dibesar-besarkan di media sosial,” jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Disdik Sumsel karena provokasi digital dapat menyebar dalam waktu singkat dan melibatkan lebih banyak pelajar. Karena itu, upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi juga harus diperkuat dari rumah.

 

Disdik Sumsel telah mengambil sejumlah langkah antisipasi untuk memastikan lingkungan pendidikan tetap aman dan kondusif. Salah satunya dengan menerbitkan surat edaran kepada seluruh satuan pendidikan SMA, SMK, dan SLB di Sumatera Selatan.

Melalui edaran tersebut, sekolah diminta menindaklanjutinya dengan memberikan imbauan kepada orang tua atau wali murid agar meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak, khususnya penggunaan telepon seluler dan media sosial.

Pengawasan tersebut bukan berarti membatasi komunikasi anak secara berlebihan, melainkan memastikan mereka tidak terlibat dalam percakapan, penyebaran informasi, maupun ajakan yang berpotensi memicu konflik.

Disdik juga mendorong orang tua untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak. Dengan demikian, setiap persoalan yang muncul di lingkungan pergaulan maupun media sosial dapat segera diketahui dan diselesaikan sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

“Orang tua juga harus ikut mengawasi penggunaan gawai anak. Jangan sampai anak mudah terpancing informasi yang belum tentu benar, kemudian ikut menyebarkan atau bahkan terlibat dalam aksi yang merugikan dirinya sendiri,” tegasnya.

 

Selain pendekatan melalui sekolah dan keluarga, Disdik Sumsel juga memperkuat koordinasi dengan aparat keamanan. Sinergi bersama Polda Sumsel, Polrestabes Palembang, serta unsur TNI dilakukan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan di kalangan pelajar.

Patroli gabungan turut digiatkan, terutama pada malam menjelang dan selama rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, yakni 15 hingga 17 Agustus 2026.

Di sisi lain, Satgas Ketertiban Sekolah juga dikerahkan untuk memantau sejumlah lokasi yang berpotensi menjadi titik berkumpulnya pelajar.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya pencegahan sekaligus memastikan aktivitas peserta didik tidak bergeser menjadi kegiatan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban umum.

Likwanyu menegaskan, langkah antisipasi tersebut bukan karena kondisi Palembang sedang dalam keadaan genting. Sebaliknya, upaya tersebut merupakan bentuk pencegahan agar potensi gangguan tidak berkembang menjadi persoalan nyata.

 

Disdik Sumsel juga mengingatkan pelajar agar tidak menjadikan media sosial sebagai ruang untuk saling menantang, menyebarkan kebencian, ataupun membangun solidaritas yang berujung pada tindakan kekerasan.

Pelajar diminta menerapkan prinsip saring sebelum sharing, terutama terhadap informasi yang berkaitan dengan isu antarsekolah maupun ajakan berkumpul.

Menurut Likwanyu, pendidikan karakter dan literasi digital harus berjalan beriringan. Kemampuan menggunakan teknologi harus dibarengi dengan kemampuan mengendalikan diri serta memahami konsekuensi dari setiap informasi yang dibagikan.

“Sekolah ini adalah wadah tempat kita memperdalam ilmu untuk mencari masa depan yang lebih baik. Mereka adalah calon-calon pemimpin bangsa dan generasi penerus kita. Mari kita jaga bersama iklim belajar yang aman dan menyejukkan,” pungkasnya.

Disdik Sumsel berharap kolaborasi antara sekolah, orang tua, aparat keamanan, dan para pelajar dapat menjadi benteng bersama dalam mencegah munculnya konflik antarpelajar.

Dengan pengawasan yang lebih kuat dan literasi digital yang semakin baik, ruang digital diharapkan tidak menjadi pemicu konflik, melainkan menjadi sarana positif bagi pelajar untuk belajar, berkreasi, dan membangun prestasi.

0 Komentar